giovedì, aprile 28, 2005

Karimun ku kan kembali…


Denger nama Karimun Jawa udah lama. Herannya dulu nggak ada keinginan untuk ke sana. Malah tambah males kalau denger cerita Nyokap. Soalnya, kalo mau ke sini harus mengarungi Laut Jawa dengan gelombang yang bikin elu pengen nenggak antimo. Apalagi gue termasuk orang yang gampang mabok. Dulu, naek angkot aja bisa muntah.

Tapi... si Karimun Jawa ternyata terus menggoda. Dari artikel di koran, liputan di TV, cerita orang-orang yang pernah ke sana, internet... dan akhirnya gue pun memutuskan. I’ve got to go there!! So, long week end kemaren itu lah gue berkesempatan mewujudkan mimpi itu.

Day I

Bareng genk Majalah Tamasya, sambil nyanyi lagu “Saya ingin tamasya, ke pulau Karimun Jawa…” pergilah gue ke sana. It turned out to be a loooooong journey. Bis yang harusnya dateng jam 10 malem, baru nongol menjelang tengah malam. Untung belum ada yang berubah jadi labu, atau upik abu... Sampai di Semarang pun molor semolor-molornya kolor. Jam 2 siang ajah gituh. Abis mati gaya duduk di bis... begitu ngeliat kapal cepat Kartini I yang udah diparkir di Tanjung Mas, rasanya seneeeeeng banget.

Day II

Kapalnya bagus dan memang di disain untuk ngangkut penumpang. Terdiri dari dua lantai. Di bawah untuk kelas bisnis dan lantai atas untuk kelas VIP. Ada tivinya, bisa karaoke lagi. Hmmm... *wink-wink* Gue dengan noraknya duduk di bagian VIP. Lumayan… kursinya bisa di adjust. Meski kapal ini tergolong besar, ternyata ayunan ombak masih berasa. Awalnya sih seru. Malah kita sempet karaokean segala. Sambil nyanyi-nyanyi, ternyata efek antimo yang gue minum setelah makan nasi padang di kapal mulai bereaksi. Perlahan, mata gue makin rapet, rapet, dan rapet. Akhirnya tidurlah gue. Tetapi oh tetapi… tiba-tiba gue terbangun oleh suara orang mabok. Rupanya ombak makin gila. Gue lirik ke kiri… Julie duduk lemes di sebelah gue… dan keluarlah pengakuannya kalo dia tadi sempet muntah. Di sebelah kanan gue, Diana duduk dengan khidmat. Kirain mikirin ide untuk artikelnya, nggak taunya dia lagi nahan supaya nggak mabok juga. Sementara di belakang gue, Uwie udah megang sekantung plastic berisi makan siangnya yang keluar lagi. Daripada mabok, mending gue rebahan lagi deh. Untung lah abis phase mabok2an itu, sampailah kita di Karimun Jawa.

Hari udah malem. Sunset yang seharusnya bisa dinikmati dari kapal, berlalu begitu saja. Dengan menumpang pick up kecil, kita digiring ke homestay Pak Arif. Bentuknya seperti rumah nenek gue sebelum di pugar. Beranda yang luas, ruang tamu dan ruang makan yang besar, serta kamar-kamar yang berderet di sisi samping. Di meja sudah tersaji kacang rebus, pisang goreng, dan wedang jahe. Duh, perut langsung kriuk-kriuk. Pisang gorengnya enak deh. Wedang jahenya lumayan bisa menghapus kelelahan di badan. Habis mandi dan beres-beres, ngobrol (soal adegan mabok-mabokan di kapal), kita pun jalan-jalan sebentar ke dermaga.

Day III

First sunrise experience at Karimun Jawa.

Malam sebelumnya Arya dari Explore Indonesia udah wanti-wanti kita untuk bangun pagi-pagi supaya bisa liat sunrise di Watu Putih. Pukul 5.15 gue and the gank langsung cabut ke sana. Jalan kaki kurang lebih 20 menit ke Watu Putih. Jalanannya agak menanjak, karena Watu Putih ini letaknya agak tinggi. Sesampainya di sana, Sang Surya masih malu-malu. Ngumpet di balik awan yang masih agak kelabu. Tapi nggak lama, dia pun menunjukkan kuasanya. Honestly… this is my first sunrise experience. Gue nggak pernah menyengajakan diri untuk liat matahari terbit. Dan nggak nyangka ya… ternyata it is so God damn gorgeous! Bulet, besar, kuning lagi! Hehehe… Acara foto-fotoan ronde pertama pun dimulai.

Balik ke homestay dan siap-siap nyebrang ke P Menjangan Kecil. Kelompok kami yang jumlahnya 70 orang itu pun dibagi menjadi 3 kelompok. Gue di kelompok pertama berangkat dengan kapal pertama. Sebelum ke Menjangan, kita ke penangkaran hiu dulu. Ada 7 hiu kecil yang berseliweran di kolam yang dalemnya hanya setengah meter. Tapi ternyata hiunya masih jinak. Malah Pak Arif yang ikut rombongan, encourage kita untuk nyebur ke kolam. Uwie yang pertama kali nyemplung... walaupun sambil takut-takut. Nggak tahan, yang lain pun ikutan nyemplung. Eh, ternyata hiunya minder kalo yang nyemplung banyak-banyak.

Dari sini, kapal diarahkan ke P. Menjangan Kecil. Nggak sampai merapat di pulaunya, kapal pun berhenti. Menurut Pak Arif, ini salah satu spot untuk diving dan snorkeling yang bagus. Nggak salah banget sih. Dari atas kapal aja, karangnya yang beraneka warna udah tampak jelas karena airnya yang sangat jernih. Sambil pake masker+snorkel anyar hadiah ulang tahun, byaaaarrr!! Blub… blub… blub… Here fishy fishy… Acara ngejar-ngejar ikan yang seru , dimulai...

Abis snorkel, kapal jalan lagi ke sisi lain P. Menjangan Kecil. Sejumlah tenda terlihat sudah tegak berdiri di bagian pulau yang agak menjorok ke luar. Sambil nunggu makan siang yang masih on the way, kita trekking mengelilingi pulau. Pasirnya putih… bersih… Pulaunya sendiri nggak terlalu besar. Mungkin seluas satu kelurahan kali ya. Nggak banyak jenis pohon yang tumbuh. Di sana sini yang terlihat hanya pohon kelapa dan pohon cemara. Hanya ada satu rumah yang dihuni sepasang kakek-nenek. Sayangnya nggak jelas kenapa si kakek dan nenek ini memilih tinggal di sini terus ya? Padahal, anak-anaknya tinggal di P. Karimun. Hmmm… sayang hidung wartawan gue udah tumpul. Padahal ini bisa jadi cerita menarik ya?!

Nggak sampai satu jam, kita udah kembali ke tenda. Makan siang belum juga dateng, sementara matahari lagi terang-terangnya. Kita pun nunggu makan siang sambil ngaso-ngaso di bawah pohon kelapa. Ajakan Arya untuk berkano ria terpaksa ditampik dulu. Panas bow!

Sekotak nasi yang datang, disergap oleh gerombolan manusia lapar yang terdampar dan hampir menggelepar-gelepar kepanasan. Setelah perut terisi, Pak Arif kembali mengajak kita untuk snorkeling. Tadinya, kita akan ke P. Burung dan P. Geleang. Selain snorkel, di sana juga bisa birdwatching. Too bad ombak yang lagi kurang bersahabat membuat kita terpaksa pergi ke daerah yang lebih aman... P. Cemara. Letaknnya kira-kira setengah jam dari P. Menjangan Kecil ke arah Barat. Ternyata di sini pun ombaknya lumayan besar hingga menyulitkan gue untuk membuat manuver-manuver cantik. Tenaga pun harus siap dikerahkan untuk mencapai titik tertentu. Karangnya lebih bagus di P. Menjangan.. tapi jumlah ikan yang jalan hilir mudik memang lebih banyak.

Back to the camp. Setelah beres-beres tenda, kano-kano yang nganggur di pinggir pantai jadi sasaran kita berikutnya. Agak was-was juga naeknya. Selain arusnya masih lumayan, keseimbangan kano kayu kecil itu sangat meragukan. Tapi Nigel, seorang Australian Armed Force yang entah kenapa bisa ikutan dalam rombongan (jangan-jangan mau memata-matai daerah latihan militer yang nggak jauh dari situ??), memberi tips sederhana untuk menyeimbangkan kano. Gue duduk di sisi kiri, Diana duduk di sisi kanan, Uwie duduk di sisi kiri. Dan taddaaaaa...!! Kano-nya nggak oleng lagi.

Sambil mendayung-dayung tak tentu arah (mostly karena kita terpaksa nyerah sama arus), we enjoy the sceneries. Hari beranjak sore. Ayunan ombak mereda dan ketenangan alam mulai menyapa. God… how I love this moment! Seperti waktu canoeing di Handeulem… Matahari beranjak ke ufuk barat dengan pendar-pendar jingga yang membuai mata. And what a surprise!! Di sisi Timur, bulan purnama sudah mulai tampak juga! And here I am in the middle, out in the ocean, with two of my beloved friends, menyapa matahari dan bulan yang malu-malu. Magnificent! Rasanya dunia sedang berbaik hati…

Malam hari memang tidak sunyi. Celotehan kami menyaingi desauan angin dan deburan ombak. Tapi entah kenapa, gue tetap ngerasain kesan senyap. Gimana pun juga, hanya ada kita di pulau kecil ini. Di tengah laut yang maha luas… di bawah naungan langit yang cerah. Walau matahari hilang sejenak... cahayanya tergantikan sinar bulan yang lembut. I fall in love... yes I fall in love with nature again that night.

Habis makan malam pakai ikan bakar yang super yummy, kita tidur di pantai hanya dengan sleeping bag. Sambil dibuai angin dan memandang bulan… bercerita dan tertawa sampai tak lagi terjaga. Sayang sekitar jam 3 dini hari, hujan turun. Terpaksa deh kita pindah ke dalem tenda.

Day IV

Nggak terasa sudah pagi. Segar! Ternyata gue tidur nyenyak malam tadi. Another sunrise experience! Kali ini matahari menyembul dari balik bukit di seberang pulau. Jadi inget gambar anak SD jaman kita kecil dulu. Siang ini kita akan balik ke P. Karimun yang akan diterusin ke Jakarta... hiks. Soooo litle time! Masih banyak spot lain yang harusnya bisa kita kunjungin. Well, maybe next time… I’ll be back!!


moon info

Powered by Blogger