lunedì, aprile 18, 2005

Battle of the Combro

Sabtu yang panas. Nggak tau kenapa, gue tiba-tiba jadi pengen makan combro, my favorite food of all time. Terutama, karena penasaran dengan combro di jalan Rangga Gading Bogor yang katanya pantas menyandang gelar “the best combro in Bogor.”

Emang penting ya, ngomongin combro? Secara combro itu makanan tradisional yang sering dipandang sebelah mata; kampungan lah, nggak elit, murahan… Well, menurut gue, dalam khasanah kuliner Indonesia combro pantas masuk dalam daftar makanan wajib coba. Meski terlihat sederhana, bikinnya susah loh. Jadi inget nyokap yang sering bikin combro tapi nggak pernah berhasil. Letak kesulitan utama adalah pembuatan kulit combro yang pas. Nggak keras dan nggak liat. Sampe sekarang nyokap gue masih belum berhasil nemuin cara bikin kulit combro yang oke punya, nih. Ada yang bisa bantu?!

Kembali ke Sabtu siang yang terik itu. Setelah sukses mengantungi 5 butir combro Rangga Gading yang harga satuannya seribu perak… plus 5 buah pisang tanduk goreng yang ikut terbeli, karena lapar mata- saya juga mampir ke Pakaly. Nama ini merupakan sebuah brand mini market yang jaman SMP dulu termasuk beken. Nah, di depannya ada stand jualan jajanan yang juga menjual combro. Rencananya, combro Rangga Gading dan combro Pakaly ini mau saya adu.

So… here’s the review:
Combro Rangga Gading
Secara ukuran, combro ini tergolong di atas rata-rata.
Sebesar kepalan anak TK kali ya. Warnanya cokelat keemasan, dengan serutan-serutan kelapa dan singkong kasar yang terlihat jelas. Kadar kematangannya pas. Waktu digigit... “kriuuuuuk!“ Ternyata kulitnya garing tapi nggak jadi susah digigit. Ketebalan kulit yang ukurannya kurang lebih 8-9 mm terasa pas. Tidak terlalu tebal sehingga hanya menyisakan sedikit space untuk isi oncomnya… tapi juga tidak terlalu tipis sehingga isi oncom terdesak keluar kulit. Rasanya cenderung gurih dan manis. Yang patut diacungi jempol adalah, kulit oncom yang biasanya terbuat dari campuran singkong parut dan kelapa parut ini sama sekali tidak liat. Selain garing, juga mudah digigit, dan tidak keras. Pokoknya seperti iklan gitu deh... garing di luar, empuk di dalam.

Untuk isinya, keliatannya sang pencipta combro membuatnya dari oncom Bandung. Untungnya, dia berhasil menghilangkan rasa bitter yang merupakan ciri khas oncom tsb. Oncom diolah dengan bumbu2 yang blend-in secara sempurna. Meski in my opinion oncomnya enak, but… karena “vokabulari” rasanya hampir sama dengan kulit (gurih, manis, asin)… element of surprise yang menurut saya patut dimiliki sebutir combro, tidak dapat ditemukan pada combro ini. Potongan cabai rawit hijau yang dicampurkan dalam ‘adonan’ oncom itu pun hanya menambah rasa pedas yang lirih. Overall, rasa adonan oncomnya nggak terlalu istimewa... nggak ada satu rasa yang mendominasi.

Combro Pakaly
Ukuran sepertiga combro Rangga Gading, cukup ideal menurut saya.
Kulitnya tipis dan karenanya tentu saja cukup renyah. Tapi surprisingly tidak serenyah combro RG. Kayaknya combro Pakaly ini digoreng dengan suhu minyak yang lebih rendah dibanding combro RG, sehingga sedikit agak liat. Karena tipis, kulit dan isi bisa didapat dalam satu kali gigitan saja.

Kalau urusan kulit kurang istimewa, tidak demikian dengan isinya. Terbuat dari oncom Bogor (yang oranye itu loh warnanya), dan diolah bersama bumbu-bumbu yang nge-blend dengan oncomnya... tapi masih menyisakan tanda-tanda kehadirannya. Gebrakan rasa bawah putih begitu terasa. Begitu pula dengan bawang merah dan cabai yang cukup generous. Belum lagi potongan-potongan cabai segar yang masih pula ditambahkan dalam adonan oncom. Hmmm… bener-bener surprise dan sanggup menerbitkan air liur tapi sekaligus membuat rasanya tidak membosankan.

Kesimpulan:
Dulu gue termasuk fanatik sama combro Pakaly. Tapi sejak kenal combro RG, haluan combro gue sedikit berubah. Nah, kalo disuruh milih… susah juga ya.
Yang satu juara kulitnya, yang satu lagi juara isinya. Kalo keunggulan kedua combro itu bisa digabungin... hmmm baru itu namanya combro sempurna!


moon info

Powered by Blogger