lunedì, gennaio 10, 2005

Nikmati Ia Apa Adanya…

Blind Coffee Tasting.

Pernah dengar? Buat Anda yang menggeleng-geleng kepala, maksud acara ini adalah icip-icip beberapa jenis kopi untuk memberi pelajaran terhadap indera kita mengenai keunikan tiap-tiap jenisnya, dan pada akhirnya nanti mengetahui jenis kopi tersebut hanya dari rasa dan aromanya. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Jalan_Sutra dan The Colonial de koffie pot –spot nongkrong terbaru di Bogor. Sebenarnya saya pernah mengikuti acara serupa di Caswell’s, Kemang. Tapi mengingat acara ini diadakan di Bogor, yah.. kenapa enggak? Apalagi yang akan memberi panduan pada acara tersebut, adalah seseorang yang benar-benar paham soal kopi. Kali-kali aja dapet banyak pengetahuan dari acara ini.

Sampai di sana pukul 14.00 kurang sedikit. Memasuki wilayah the Colonial, tampak sederetan mobil memenuhi lahan parkirnya. Meski baru dibuka dan tanpa promosi memadai, rupanya banyak yang sudah ‘ngeh’ dengan kehadiran tempat baru ini. Nggak heran sih. Selain lokasinya yang dilewati oleh rute angkot 03, jurusan Bubulak-Baranang Siang (termasuk rute sibuk), keberadaannya pun cukup menyita mata. Masuk ke dalam ruangannya seperti masuk ke dalam ruangan tak berdinding, karena seluruh sisi bangunan ini hanya dibatasi oleh kaca. Memang sayang menghalangi pandangan kita dari asrinya lingkungan sekitar dengan dinding beton. Bagian muka the Colonial menghadap langsung dengan sebuah rumah lama berarsitektur art deco yang letaknya agak tinggi. Kontur tanah di sekitar bangunan ini memang tergolong berbukit-bukit. Sementara di samping, yang berhadapan langsung dengan bagian beranda –bagian smoking area- terdapat rerimbunan pohon tua yang dengan patuhnya berbaris rapi. Cukup menyejukkan mata.

Saya dan Uwie duduk di sofa paling pojok, bergabung dengan 3 orang anggota JS lain yang rupanya sudah duluan mengadakan tur jalan-jalan dan makan-makan di Bogor. Beberapa makanan yang sudah mereka jajal antara lain Laksa dan ngo hiong di Jalan Rangga Gading. Beberapa butir besar combro juga telah mereka santap.

Cukup lama menunggu anggota JS yang lain berkumpul. Menurut daftar yang diterbitkan milis sih, akan ada 20 orang JS-ers yang bakalan hadir di sini. Selain tim JS, terlihat pula beberapa kelompok anak muda –terlihat dari seragam sekolah yang mereka pakai- memenuhi tempat tersebut.

Di setiap meja telah tersedia sebuah makalah singkat yang isinya membahas sejarah kopi, bagaimana menilai kopi, pokoknya hal-hal seputar kopi deh. Juga disediakan 4 cangkir kertas dan sebuah sendok kecil bundar di setiap bangku. Di tengah ada cangkir keramik berwarna merah terang yang entah untuk apa. Kalau cangkir kertas saya sudah bisa menebak-nebak. Cangkir ini nantinya akan diisi bubuk kopi dan air hampir mendidih. Masing-masing cup untuk jenis kopi yang berbeda.

Acara dibuka oleh Adi, si pakar kopi yang juga anggota JS. Ia menerangkan cara yang biasa ia lakukan untuk mengapresiasi kopi. Juga bahwa setiap orang memiliki cita-rasa yang berbeda kala berurusan dengan kopi. Definisi kopi enak bagi tiap orang akan berbeda-beda. Kopi kental dan asam bagi sebagian orang mungkin dianggap enak, sementara bagi orang lain memiliki selera yang lebih condong ke rasa kopi yang sweet dan ringan.

Sebelumnya perlu diceritakan di sini, bahwa saya bukanlah penikmat kopi sejati. Sejati di sini artinya, saya belum bisa menikmati kopi dalam bentuknya yang paling primitif: kopi seduh. Ritual kopi saya biasanya melibatkan sesendok teh tipis kopi instan, 2 sendok teh munjung krimer, dan satu sendok teh gula. Ketiga bahan tersebut saya campur begitu saja dengan seduhan air panas dari dispenser.

Acara seduh menyeduh kopi pun dimulai. Tiga buah cangkir kertas diisi oleh 3 jenis kopi yang berbeda. Dari bentuknya saja sudah terlihat. Cangkir A dan B berisi butiran kopi yang lebih halus dengan warna yang cenderung seperti cokelat bubuk. Sementara cangkir C terisi bubuk kopi yang warnanya lebih hitam, baunya pun seperti kayu gosong. Cangkir keempat diisi oleh air putih yang akan diminum untuk menetralisir rasa kopi tiap cangkir, sebelum mencoba cangkir yang lain. Cangkir keramik merah di tengah diisi air panas yang dipakai untuk menghangatkan sendok kecil, sebelum dipakai untuk mengaduk campuran kopi bubuk dan air hampir mendidih yang dituang ke dalam setiap cangkir kertas. Eits... sabar dulu. Adi melarang kami untuk langsung mengaduk kopi. Tunggu setengah menit, sampai bubuk kopi yang diseduh air itu benar-benar matang, baru kemudian aduk. Masalah ke arah mana Anda mesti mengaduk, itu terserah pribadi masing-masing.

Rupanya teman-teman satu meja saya masih cukup awam dengan kopi, dan bukan termasuk dalam golongan penikmat kopi sejati. Hanya Uwie yang termasuk lebih mengerti dan paling dapat menikmati kopi. Hal ini terungkap dari cara mereka mengicip kopi. Leonny yang duduk sebelah saya, berulang kali menenggak cangkir D yang isinya air putih. Nyicipnya pun dengan gaya yang ngoboy banget. Sendok di celup sana celap sini, berpindah-pindah dari cangkir kopi satu ke cangkir yang lainnya. Lucunya, ia lupa kumur-kumur sebelum mencoba jenis kopi yang berbeda. Pantas saja, kalau ketiga cangkir kopi itu seperti memiliki rasa yang sama.

Ada 5 kategori penilaian untuk setiap kopi. Pertama yang langsung terasa adalah aroma. Keharuman kopi langsung menyeruak begitu kopi dituangkan ke dalam cangkir. Dan aroma ini semakin menggila saat air panas memadu dengan butiran-butiran biji kopi tadi. Setelah diicip, barulah kita dapat menentukan acidity, body, mouthfeel, dan aftertaste dari masing-masing kopi. Sulit sih. Bayangkan, saya yang tidak terbiasa minum kopi tubruk dihadapi dengan tiga cangkir kopi yang benar-benar asli rasa kopi tubruknya! Pahit, jelas. Setelah itu? Kok, rasanya tetap pahit ya..? Mana itu rasa kesat, cokelat, kayumanis?!! Rasanya indera pengecap saya bebal nggak ketulungan. Kalau sekadar menilai kadar keasamannya atau ketebalannya, mungkin saya masih sanggup. Tapi kalau menangkap spektrum rasa yang tertangkap dari setiap jenis kopi, saya angkat tangan. Tak terkira banyaknya sendok-sendok berisi kopi beraneka jenis yang nyelonong masuk ke mulut dan dengan suksesnya melewati kerongkongan tanpa meninggalkan jejak-jejak sensasi rasa, selain pahit dan asam! Leonny cs juga mengalami kesulitan yang saya rasakan. Beberapa kali mereka salah menafsirkan rasa kopi tsb dengan rasa combro yang baru saja mereka makan.

Setelah menyerah dan mengisi lembar tes apa adanya, Pak Adi sebagai tetua kopi pun membagi interpretasinya. Kami, para cecunguk kopi, hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Tak jelas apakah mereka mengerti atau terpesona dengan kosa kata yang dipakai Pak Adi untuk menjelaskan sensasi rasa yang terkecap di lidahnya. Bukan sekadar pahit, asam, encer, saja. Beliau dapat mendeteksi wangi rumput hijau di lapangan/halaman yang baru tersiram air hujan. Wow... Praise for Adi!
Belum lagi kata-kata seperti mouth cleansing, almond, chocolat, sampai mocca (yang dihilangkan rasa manisnya, pernah tahu?!). Padahal rasa-rasa tersebut termasuk yang sering mampir memanjakan lidah saya. Kok, bisa ya?

Habis terkagum-kagum dengan penjelasannya, Adi membuka nama dan merek kopi yang baru saja diicip. Kopi Toraja Excelso, Kopi Toraja Aroma, dan Kopi ... Aroma. Semuanya termasuk dalam jenis kopi Arabika.

Meski lidah sudah cukup bebal setelah diguyur kopi aneka rasa, saya toh masih penasaran merasakan kopi bikinan the Colonial usai acara. Jadilah saya memesan secangkir kopi Classic Moccha. Harga yang tertera, Rp 15.000... tapi saya hanya membayar Rp 11.200 terpotong diskon 25%. Sang barista pun memenuhi pesanan saya. Cokelat kental dituangkan di dasar cangkir bening berukuran medium. Baru sampai ketebalan 3 cm ia berhenti menunggingkan botol cocholate syrup tersebut. Setelah cokelat, dituangkannya susu, dan satu sloki kopi espresso dengan sangat berhati-hati. Hasilnya, bahan-bahan tersebut membentuk layer demi layer, dengan warna yang berbeda-beda. Cokelat, susu, dan espresso. Tidak perlu ditambahkan gula, cukup aduk merata… Rasanya? Pas! Walau menurut Uwie agak terlalu berminyak.

Enough coffee for today. Saya pun pulang dengan rasa pahit-asam yang masih melekat di lidah.

*sorry ya kepanjangan. Abis masih anget sih.. ;p


moon info

Powered by Blogger