martedì, novembre 02, 2004

Handeuleum Memories...

Aku ke sini untuk melupakanmu. Menghilang dari bayangmu. Menjauhi pesona senyummu. Tapi apa dayaku… Di bagian otakku yang paling belakang, memori indah itu masih menari-nari… Seakan mengejek ketidak berdayaaanku menghindarimu…

Deburan ombak kecil bergulung menghantam pantai. Buih-buihnya yang putih seperti mencoba menggapai kakiku yang telanjang. Di kejauhan, tampak gugusan pulau Ujung Kulon, dipisahkan oleh selat-selat kecil berair tenang. Biru. Asli. Bukan hasil rekayasa komputer yang biasa dilakukan para desainer grafis di kantor. Rasanya seperti melihat foto yang biasa terpampang di muka kartu pos. Tapi aroma laut yang segar membuatku tersadar. This is real. You’re not dreaming.

Sayang cuaca cepat berubah. Langit biru cerah mulai tertutup iringan awan hitam. Rombongan kami pun cepat-cepat bergerak ke perahu nelayan kecil yang mulai bergerak merapat ke tepi pantai. Sementara sebuah perahu kayu yang lebih besar telah menanti kami mengantar ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Pulau yang kini punya arti dalam hati.

Inilah awal perjalanan… awal kisah penuh kenangan. Ada banyak cerita. Ada banyak tawa. Ada jeritan bahagia. Ada hamburan tawa. Memang cuma rasa bahagia. (Tapi kenapa ku menangis bila mengenangnya…)

Handeuleum. Itu nama pulaunya. Tak berpenghuni, katanya. Bahkan angker yang kudengar belakangan. Ada sebuah vila tua peninggalan zaman Belanda berdiri teguh di tengahnya. Meski lumut menggaruk sisi-sisinya. Meski rayap menggerogoti tiang-tiangnya.

Hujan turun dengan derasnya waktu kami sampai. Cipratan air hujan membasahi ujung celanaku. Sandal karetku pun licin dibuatnya. Tapi ku terus berlari, menghindar hujan. Mencari kehangatan. Vila Belanda itu pun menyapa. Meski terkesan angkuh, kurasakan kehangatannya. Terlebih ada makanan hangat terhidang disana... :P

Cuaca disini cepat berganti. Iringan awan hitam itu seperti berlari dikejar matahari. Kususuri tepi-tepi pulau dengan kano kayu yang ringkih. Mengarungi kejinakan air laut. Mengagumi ketenangan dan keindahannya. Seperti lukisan alam, dengan hiasan pelangi di pinggir kanvasnya.

Luasnya... membuatku merasa kecil dan tak punya arti.

Ketenangannya merasuk pelan-pelan... Seperti menawarkan pertemanan dengan hatiku yang yang tak berkawan.

Matahari bergulir ke arah Barat. Bukan... Ia tak kan hilang. Hanya menyinari belahan bumi yang lain. Kilauan emas pun memantul indah di permukaan air laut. Dan senja berjalan pelan. Sepelan ayunan kanoku. Setenang alunan ombak petang.

Angin semilir…

Alunan ombak…

Kicauan burung lirih…

Gemericik air…

Seperti melodi indah…

Yang digarap Bach…


Malam tak kalah indah. Spektakuler, malah.

Langit bersih terbentang tanpa batas yang bisa dilihat jelas. Tak ada bulan memang. Tapi kehadiran sejuta bintang seperti berteriak... kamu tidak sendiri!

Bintang bersinar dengan jalangnya. ”Hah, kami hebat disini!“ Begitu mungkin katanya. Tak ada lampu-lampu kota yang meredupkan cahayanya. Tak ada juga lampu-lampu disko yang menyaingi kerlipnya. Hanya dia... hanya aku...

Bintang pun jatuh.

Mungkin karena ia terlalu angkuh.

Adakah karena ia tak ingin menunjuk arah.

Mungkin cukup akui saja kalau ia indah.


Disini ia tak terasa jauh.

Ingin rasanya ku merengkuh.


Malam gelap tanpa sinar lampu listrik. Air pasang diam-diam. Kijang-kijang berkeliaran dengan senang. Endus sana... endus sini.
Entah apa yang mereka cari. Monyet pun menari-nari di malam hari. Loncat sana... loncat sini. Dari dahan satu ke dahan yang lain. Tak paguh hati. Itu tak punya arti.


Tapi itu semua hanya memori. Mungkin bukan biru warnanya. Bukan pula jingga. Karena memang tak perlu ada warna. Ia indah apa adanya.


Dan bila kebersamaan itu tak lagi ada...

Jangan lagi salahkan diri...


Dedicated to Handeuleum River Challenge member. Thanks for all the memories and friendship that once there.


moon info

Powered by Blogger